ACEH – Badan Geologi ESDM menjelaskan fenomena lubang raksasa di Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, makin meluas berpotensi mengancam area perkampungan warga. Badan Geologi menilai ada kemiripan lubang raksasa Aceh Tengah sinkhole, namun memiliki sisi berbeda.
“Fenomena sinkhole (lubang amblevsan) memang identik dengan batuan gamping (karst), namun kejadian di Pondok Balik, Ketol, Aceh Tengah, membuktikan bahwa material vulkanik juga memiliki kerentanan serupa, meski dengan mekanisme yang sedikit berbeda,” kata Plt Badan Geologi ESDM Lana Saria kepada wartawan, Minggu (1/2/2025).
Badan Geologi gerakan tanah di lubangan raksasa sudah berlangsung cukup lama. Ditambah, menurut Badan Geologi, batuan, kemiringan lereng, dan aliran irigasi membuat potensi lubang makin luas.
“Menurut informasi dari warga setempat, gerakan tanah sudah terjadi sejak beberapa tahun yang lalu dan masih berkembang sampai sekarang terutama pada musim hujan. Batuan dasar berupa batuan vulkanik yang didominasi oleh tufa yang bersifat loose (lepas), porous (sarang), kemiringan lereng sangat terjal hampir tegak serta terdapat drainase berupa saluran irigasi di bagian selatan yang berpotensi air meluap pada saat hujan besar atau meresap,” ujarnya.
Batuan di lubang raksasa tersebut dinilai menjadi gembur karena lereng tak stabil dan kondisi air. Penyebab lubang semakin meluas juga dinilai karena proses pengikisan tebing ke arah samping oleh aliran air, yang memperlebar tebing atau lembah.
“Hal ini membuat lereng tidak stabil dan jenuh air sehingga batuan menjadi gembur dan berat massa batuan bertambah, ditambah dengan adanya erosi lateral oleh rembesan air yang berada pada bagian lembah lereng menyebabkan terjadinya longsoran dan runtuhan batuan,” ucap Lana.
“Selama penyebabnya berupa aliran air di bawah permukaan tidak bisa dihentikan, maka berpotensi adanya perluasan,” imbuhnya.
Badan Geologi pernah memberikan rekomendasi terkait gerakan tanah di Aceh pada 2021, yaitu:
Jangka pendek
Jangka panjang
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga sebelumnya mengatakan pihaknya sudah meminta tim teknis melakukan kajian dan penanganan lubang besar yang telah memutuskan badan jalan itu.
“Ini memang semakin hari semakin berat, semakin bergeser. Nah, ini kalau tidak diantisipasi, itu nanti terbelah,” kata Haili, dilansir detikSumut, Jumat (30/1).
Dia mengatakan longsor di lokasi itu sudah terjadi sejak 2013. Namun beberapa bulan terakhir longsoran semakin sering terjadi.
“Jadi ini mungkin harapan kita, mungkin tim dari provinsi dan pusat harus hadir dengan tim kabupaten sehingga nanti ini tidak melebar ke tempat-tempat yang lain. Dan hari ini memang jalan itu sudah putus. Itu sangat riskan,” jelasnya
Tinggalkan Komentar