SAMALANGA – Suasana salah satu warung kopi di sudut kota Samalanga “elit kopi” pada Senin malam (28/4) tampak berbeda dari biasanya. Di antara kumpulan uap kopi saring, sekelompok pria lintas generasi terlihat terlibat dalam obrolan serius namun penuh gelak tawa.
Mereka bukanlah orang asing, melainkan para mantan Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Samalanga dan Simpang Mamplam (IPPSM) yang tengah menggelar pertemuan silaturahmi non-formal.
Pertemuan yang diinisiasi secara mendadak melalui grup WhatsApp ini bertujuan untuk mempererat kembali tali persaudaraan yang sempat merenggang akibat kesibukan masing-masing di berbagai sektor pekerjaan.
Menjaga Tradisi “Peugah Haba”
Bagi masyarakat Aceh, warung kopi adalah “parlemen kecil”. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh para eks tokoh pemuda Samalanga ini. Tidak ada agenda protokoler, tidak ada jas organisasi, yang ada hanyalah nostalgia dan diskusi mengenai masa depan pemuda Samalanga dan Simpang Mamplam.
“IPPSM bukan sekadar organisasi bagi kami, tapi rahim tempat kami belajar kepemimpinan. Bertemu seperti ini mengingatkan kita bahwa meski masa jabatan sudah habis, pengabdian untuk tanah kelahiran tidak ada batas waktunya,” ujar salah satu mantan ketua yang kini berkecimpung di dunia profesional.
Poin Penting dalam Diskusi Santai
Meski judulnya hanya “ngopi bareng”, beberapa poin krusial sempat mencuat di sela-sela obrolan, antara lain:
Regenerasi: Bagaimana mendorong mahasiswa dan pelajar Samalanga saat ini agar lebih peka terhadap sosial.
Sinergi Alumni: Membangun jejaring antar mantan pengurus untuk membantu adik-adik yang baru lulus dalam mencari peluang kerja atau beasiswa.
Kontribusi Daerah: Memberikan sumbangsih pemikiran kepada pemerintah daerah terkait isu-isu sosial dan pembangunan di Samalanga dan Simpang Mamplam.
Semangat yang Tak Pernah Padam
Pertemuan tersebut diakhiri dengan sesi foto bersama dan komitmen untuk menjadikan agenda “Kopi Darat”. Kehadiran para mantan pimpinan ini membuktikan bahwa dedikasi terhadap organisasi tidak berhenti setelah serah terima jabatan.
Di tengah gempuran era digital, pertemuan tatap muka di warung kopi tetap menjadi cara paling ampuh bagi para “alumni” IPPSM untuk menjaga kekompakan. Seperti filosofi kopi: pahit di lidah, namun meninggalkan kesan yang mendalam dan mempererat ikatan. (Red)
Tinggalkan Komentar